Jarai, SL — Kepedulian terhadap warisan budaya kembali ditunjukkan keluarga besar SMK Negeri 1 Jarai melalui kegiatan Sosialisasi Cagar Budaya Megalitik Jarai Terintegrasi dengan Mata Pelajaran Sejarah, Bahasa Indonesia dan PPKN.
Kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar oleh SMK Negeri 1 Jarai ini menghadirkan Mario Andramartik, tokoh kebudayaan dan pariwisata Sumatera Selatan sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat, sebagai narasumber.
Sebanyak 60 siswa bersama sejumlah guru mengikuti kegiatan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke Situs Megalitik Baturang, Desa Gunung Megang, Kecamatan Jarai. Para peserta berjalan kaki sekitar satu kilometer dari sekolah menuju lokasi situs.
Kegiatan tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang berbeda bagi para siswa. Materi mengenai kekayaan peradaban megalitik Pasemah, khususnya yang berada di wilayah Jarai, disampaikan tidak sekadar melalui teori, tetapi langsung bersentuhan dengan peninggalan sejarah yang ada di lingkungan mereka.
Kepala SMK Negeri 1 Jarai, Ema Yuliantri, S.Pd., M.Pd, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Atas nama keluarga besar SMK Negeri 1 Jarai, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan sosialisasi cagar budaya ini. Kehadiran narasumber Mario Andramartik telah memberikan suntikan ilmu dan inspirasi yang luar biasa bagi anak-anak didik serta guru-guru kami,” ujar Ema.

Menurutnya, integrasi pembelajaran Sejarah, Bahasa Indonesia dan PPKN membuat proses belajar menjadi lebih dinamis. Siswa tidak hanya diajak memahami masa lalu, tetapi juga dilatih berpikir kritis, menyampaikan gagasan melalui keterampilan berbahasa, sekaligus memahami tanggung jawab sebagai warga negara dalam menjaga aset budaya bangsa.
Paparan Mario Andramartik, yang pernah menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Tahun 2017, mengenai kekayaan peradaban megalitik Pasemah di wilayah Jarai, disebut telah membuka perspektif baru bagi warga sekolah.

“Sekolah kami ternyata dikelilingi oleh laboratorium sejarah yang bernilai dunia,” ungkap Ema.
Usai menerima materi di ruang kelas, para siswa dan guru kemudian menuju Situs Megalitik Baturang. Setibanya di lokasi, antusiasme peserta semakin terlihat ketika Mario kembali melanjutkan pemaparan mengenai keberadaan dan nilai penting peninggalan megalitik yang berada di kawasan tersebut.
Sesi di lokasi situs berlangsung interaktif. Para siswa dan guru tidak hanya menyimak, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan serta menyampaikan kesan dan pandangan mengenai keberadaan situs megalitik di Kecamatan Jarai.
Bahkan, salah seorang siswa mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan bercita-cita menjadi seorang arkeolog.

Bagi Ema, munculnya cita-cita tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pembelajaran tentang cagar budaya dapat menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus membuka cakrawala masa depan generasi muda.Ia pun berpesan agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Jadikan ilmu yang dibagikan oleh narasumber Mario sebagai pemantik komitmen nyata untuk menjaga, merawat, dan menghormati situs-situs megalitik di lingkungan sekitar kita,” pesannya.
Khusus kepada para guru, Ema berharap inovasi pembelajaran lintas mata pelajaran seperti ini dapat terus dipertahankan dan dikembangkan.
“Mari kita bersama-sama mencetak generasi muda SMK Negeri 1 Jarai yang tidak hanya kompeten dan siap kerja secara industri, tetapi juga tumbuh pada akar budaya serta memiliki identitas daerah yang kuat,” tegasnya.
Kegiatan tersebut turut diikuti Sumarti, ST., M.Pd, Waka Bidang Kurikulum; Ahmad Asrori, S.Pd., M.Pd, Waka Bidang Sarpras; Reko Darlis, S.Pd, Waka Bidang Kesiswaan; Yanharudin, S.Pd, Waka Bidang Hubin; Hengki Firmansyah, S.Pd, guru Sejarah, serta sejumlah guru Bahasa Indonesia dan PPKN.
Dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan, turut hadir Ahmad Rifai selaku Koordinator Juru Pelihara Jarai Area dan Kota Pagar Alam serta Avian Sahudi, Juru Pelihara Situs Megalitik Gunung Kaya.
Sementara itu, Mario Andramartik pada tahun 2026 juga disebut dicalonkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, SMK Negeri 1 Jarai menunjukkan bahwa mengenal sejarah tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Situs-situs cagar budaya yang berada di sekitar sekolah dapat menjadi ruang belajar terbuka untuk membangun pengetahuan, karakter, kecintaan terhadap daerah, sekaligus kesadaran generasi muda dalam menjaga warisan peradaban.
Harapannya, kegiatan serupa dapat diikuti sekolah-sekolah lainnya. Dengan mengenal cagar budaya yang berada paling tidak di wilayah kecamatan tempat sekolah berdiri, siswa dan seluruh warga sekolah diharapkan semakin memahami bahwa peninggalan sejarah bukan sekadar benda dari masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya yang harus dijaga bersama. ***/Bangjoem
