Lahat,SL — Pendidikan tidak hanya tentang mengejar prestasi akademik, tetapi juga bagaimana menanamkan kepedulian, empati, dan keimanan dalam diri peserta didik. Nilai itulah yang terus dibangun SMPN 8 Lahat “ALAP” melalui kegiatan rutin Jum’at Berbagi.
Diketahui Alap adalah jargon dari sekolah tersebut yakni Asri, Leadership, Agamis dan Prestasi.
Dalam kegiatan tersebut, SMPN 8 Lahat membagikan sebanyak 150 paket sembako kepada mereka yang membutuhkan. Sebagian bantuan diberikan kepada siswa-siswi yang berasal dari keluarga kurang mampu, sementara sebagian lainnya disalurkan kepada masyarakat sekitar sekolah yang dinilai berhak menerima bantuan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membentuk karakter peserta didik agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki rasa peduli terhadap lingkungan sosial dan sesama.
Kepala SMPN 8 Lahat, Yudi Markos, S.Pd., MM, mengatakan bahwa kegiatan Jum’at Berbagi merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter yang sengaja dibangun secara konsisten di lingkungan sekolah.
Menurutnya, kepedulian tidak cukup hanya diajarkan melalui teori. Anak-anak perlu diberikan ruang untuk melihat, merasakan, dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial sehingga nilai berbagi dapat tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin mendidik anak-anak agar memiliki kepedulian terhadap sesama sekaligus meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbagi bukan hanya tentang memberikan sesuatu, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian,” ujar Yudi.
Ia menegaskan, kegiatan Jum’at Berbagi bukan kegiatan sesaat. Program tersebut dilaksanakan secara rutin setidaknya tiga kali dalam setiap semester, dengan sasaran penerima bantuan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Bagi SMPN 8 Lahat “ALAP”, setiap paket sembako yang disalurkan bukan sekadar bantuan material. Di baliknya terdapat pesan pendidikan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi juga dari seberapa besar kepeduliannya terhadap orang lain.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berharap budaya saling membantu, berbagi, dan menghargai sesama dapat terus tumbuh di kalangan siswa. Sebab, pendidikan karakter yang kuat dimulai dari kebiasaan sederhana—mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan.**/Bang Joem
